cita-cita-bedul-cuma-jadi-penggulung-terpal-truk-sampah-sekolah-anak-para-pemulung
Bau busuk sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, sudah bisa tercium dari radius sekilo. Apalagi ketika konvoi truk berwarna oranye lewat sambil meneteskan air dari dalam bak truk. Di gerbang masuk kawasan gunung sampah, nampak enam bocah lelaki sudah menunggu truk bermuatan penuh itu. Mereka biasa disebut Anak Gulung Terpal (AGT).
Pekerjaan anak-anak itu menggulung terpal penutup bak sampah lalu mencari sampah di sana. Indah merupakan satu dari enam anak itu. "Sekolahnya kan pagi sampai siang, habis itu pulang biasanya 'nyari' (mulung), lumayan buat bantu bapak," ujarnya kepada merdeka.comdi lokasi pekan lalu.
Indah bersama bapaknya, Wahab, memulung di sana. Selama ini kawasan 'bulog' sebutan lain untuk TPST Bantar Gebang, memang menjadi surga bagi para pemulung. Anak-anak hingga orang dewasa yang bekerja sebagai pemulung sampah banyak berjubel di sana.
Hasil memulung cukup untuk makan sehari-hari. Daftar harga sampah-sampah sudah tertanam di kepala mereka, mulai yang paling murah sampai paling mahal. "Paling murah ya plastik, cuma lima ratus perak. Paling mahal nium (alumunium) bekas kaleng soda bisa tujuh ribu sekilo," katanya.
Puluhan bos pengepul sampah punya langganan pemulungnya sendiri. Persentase potongan buat harga sampah terkadang naik turun sesuai dengan kesediaan stok. Biasanya pemulungnya bisa diberikan hasil uangnya per hari atau per bulan sesuai dengan perjanjiannya.
Anak-anak sudah terbiasa mencari uang di kawasan TPST. Sekolah cuma jadi tempat membosankan. Dengan kondisi himpitan ekonomi seperti itu akhirnya memaksa mereka memilih memulung dibandingkan belajar dan bermain sesuai dengan usianya.
Masih di tempat sama, Bedul bukan nama aslinya, sudah memulung sejak kelas tiga sekolah dasar. Berkat ajakan temannya saban hari menunggu truk sampah, dia akhirnya kepincut juga. Setiap hari dia menjadi pemulung dan sesekali ikut menggulung terpal penutup sampah di truk- truk. Bedul dan teman-temannya bisa mengantongi Rp 5 ribu sekali gulung.
Untuk tambahan membuka pintu bak ada tambahan sampai Rp 10 ribu. Itu buat satu truk. "Kita bisa kantongi Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per harinya," ujar bocah 12 tahun itu. Dia mengaku sudah tak punya niat untuk kembali bersekolah.
Apalagi cita-cita Bedul ketika dewasa cuma satu, jadi penggulung terpal sampah. "Mending kita di sini bisa dapat duit," ujarnya sambil mengisap sebatang kretek.
Belum lagi bahaya yang mengincar bocah-bocah pemulung sewaktu-waktu. Misalnya dari longsoran tumpukan sampah, sampai bahaya mesin tekan buat pengeruk tumpukan sampah.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, mengatakan Bekasi merupakan salah satu kota tak ramah dengan anak. Selain deretan kasus kekerasan pada anak masih terjadi setahun belakangan. Kota patriot itu juga minim ruang taman bermain untuk anak.
Di TPST Bantar Gebang, berdasarkan data dari Yayasan Dinamika Indonesia (YDI) pada 2012, terdapat 976 anak pemulung berusia 0-17 tahun. Dan sejak YDI berdiri pada 1995 sudah 805 anak yang bersekolah gratis di situ. Saban tahunnya mereka menerima 40-50 murid dan kini jumlahnya total pada tahun 2015 mencapai 417 murid.
Category: Khas


0 comments