Fashion
Di tengah melemahnya pasar sepeda motor nasional pada bulan Juli karena pendeknya hari kerja, pangsa pasar Honda menguat menjadi 66,1 persen melalui penjualan sebesar 278.754 unit.
Selama bulan Juli, Honda BeAT masih menjadi varian terlaris Honda di pasaran. Di bulan ini juga tercatat model bebek Honda semakin kokoh di puncak segmennya.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) pada Juli 2015, penjualan sepeda motor nasional tercatat sebesar 421.838 unit atau terus melemah hingga 26,6 persen dari pencapaian penjualan bulan sebelumnya, 574.714 unit.
Namun di tengah kondisi ini, PT Astra Honda Motor (AHM) mampu meningkatkan pangsa pasar sepeda motor Honda menjadi 66,1 persen setelah mencatat penjualan 240.355 unit motor skutik, 28.488 unit motor bebek, dan 9.911 unit tipe sport. Pada bulan sebelumnya, pangsa pasar Honda tercatat mencapai 62,1 persen melalui angka penjualan 361.767 unit.
General Manager Sales Division AHM Thomas Wijaya mengatakan kondisi tersebut mencerminkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap sepeda motor Honda. Hingga memasuki bulan Juli, kondisi makro ekonomi belum membaik dan berdampak terhadap penjualan sepeda motor. Kendati demikian, AHM tetap berupaya menyuguhkan model-model terbaru yang didukung layanan purna jual terbaik untuk masyarakat.
"Terima kasih untuk kepercayaan besar masyarakat terhadap sepeda motor Honda. Meskipun permintaan sepeda motor nasional belum pulih, ditambah hari kerja yag pendek pada bulan lalu, kami senantiasa berusaha menemani masyarakat dengan produk-produk baru dengan perpaduan terbaik dari desain, teknologi dan fitur canggih khas Honda. Kami pun tak berhenti meningkatkan kualitas layanan di seluruh jaringan sepeda motor Honda." ungkap Thomas Wijaya.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memiliki wacana untuk meningkatkan pengguna domain .id hingga mencapai 1 juta domain pada tahun 2017.
Untuk memuluskan rencana itu, Kemkominfo tak tanggung-tanggung akan mengalokasikan dana Rp 50 miliar untuk mengadakan satu juta domain .id. Melalui sejuta domain .id yang akan 'digenjot' itu, akan ada penghematan biaya yang dikeluarkan untuk penggunaan bandwidth internasional.
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) pun sudah siap untuk membantu mewujudkan niat pemerintah dengan berbagai strategi.
"Pemerintah berencana akan mensponsori satu juta domain ya, kalau gak salah targetnya di 2016 ini baru 500 ribu. Biaya dari pemerintah itu nantinya, termasuk biaya domain, hosting, dan pendampingan dengan catatan bahwa data center diharapkan ada di Indonesia agar trafik internet ada di Indonesia," ujar Ketua Umum PANDI, Andi Budimansyah, saat ditemui Merdeka.com diJakarta, Selasa (25/8).
Maka dari itu, untuk menyukseskan program sejuta domain .id, PANDI pun tak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk menggerakkan program sejuta domain .id itu.
Andi mengatakan, masyarakat bisa berkontribusi sebagai koordinator pendaftaran domain .id dengan cara mengirimkan proposal kepada Kemkominfo yang nanti akan difasilitasi oleh PANDI. Jika pengajuan proposal diterima Kemkominfo, maka bakal menjadi vendor pemerintah untuk program ini.
"Jadi, kalau ada perusahaan hosting yang ingin mengonline kan UKM di suatu daerah, silakan. Contohnya, pedagang batik Solo di Laweyan, yang mau bikin website sehingga pedagang batik punya website sendiri nanti bisa mendaftar lewat coordinator tersebut. Misalnya, siapa saja yang punya ide silakan bikin proposal dan targetnya berapa orang. Kalau oke, nantinya bakal menjadi vendor dari pemerintah untuk mengerjakan proyek itu," kata pria berkacamata ini.
Andi juga menambahkan,"Sifat PANDI hanya memfasilitasi. Dalam hal misalnya koordinator yang sudah bekerja sama dengan Kemkominfo, udah kerjakan 100 ribu domain terus klaim ke pemerintah, nah nanti PANDI yang akan verifikasi dulu bener gak domainnya ini udah aktif 100 ribu. Misalnya bener, ya udah nanti pemerintah bayar".
Kemkominfo bersama PANDI sudah menyosialisasikan agenda tersebut di beberapa kota, seperti Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan selanjutnya akan dilakukan di Bandung sekitar tanggal 26-27 Agustus ini.
"Kita baru memberikan awareness ke mereka nih. Harapannya mereka bikin proposal dan kita bisa laksanakan di tahun 2016. Kalau gak kayak gitu 2016, waktunya ketinggalan," tutur Andi.
Pelanggan yang loyal adalah aset perusahaan. Untuk itu, guna mengapresiasi loyalitas pelanggan yang setia menggunakan layanan selama ini, PT XL Axiata Tbk (XL) menyelenggarakan program undian berhadiah yang spektakuler.
Program ini akan berlangsung selama 60 hari, dengan menyediakan hadiah mobil Mazda2 sebanyak 60 unit. Setiap hari akan ada satu unit mobil yang diundi. Program ini akan berlangsung mulai 22 Agustus 2015 sampai dengan 20 Oktober 2015, dan berlaku bagi seluruh pelanggan XL Prabayar di mana saja mereka berada.
Chief Brand & Customer Experience Officer XL, Nicanor V. Santiago III mengatakan, program ini merupakan bagian dari upaya XL mengapresiasi pelanggan yang selama ini telah setia menggunakan layanan XL.
"Selain itu, program ini sebagai bagian dari rangkaian program menuju Hari Jadi XL ke-19 tahun, 8 Oktober 2015 mendatang. Kami ingin pelanggan ikut bergembira merayakannya, karena mereka bagian dari kami," ujarnya.
Nicanor menambahkan, program undian ini sekaligus mengimplementasikan program transformasi perusahaan. XL terus berupaya mendorong pertumbuhan pelanggan yang lebih aktif menggunakan layanan XL, bukan sekadar kuantitas jumlah pelanggan.
Cara untuk mendapatkannya, cukup mengisi ulang pulsa minimal Rp 10 ribu, sudah bisa mendapatkan kesempatan mendapatkan hadiah mobil atau hadiah lainnya.
Pelanggan hanya perlu meningkatkan jumlah isi pulsa setiap harinya untuk meningkatkan kesempatan untuk menang di undian hari berikutnya. Semakin besar jumlah dan semakin sering pelanggan melakukan Isi Pulsa semakin besar kesempatan untuk memenangkan hadiah.
Untuk mengikuti program ini, pelanggan bisa melakukan Isi Ulang dari berbagai saluran penjualan pulsa XL Center, konter pulsa, juga di supermarket atau minimarket seperti Indomaret, Alfamart, 7-Eleven, Lotte.
Selain itu, isi ulang juga bisa dilakukan di bank-bank seperti BCA, BUKOPIN, BRI, MANDIRI, MAYORA, PERMATA, BNI, CIMB NIAGA, DANAMON, BII, baik melalui ATM maupun Mobile Banking (XL Fitur, *141#, SMS Banking).
Setiap harinya pemenang yang beruntung mendapatkan Mobil Mazda2 akan diinformasikan di Website XL, Aplikasi MyXL, facebook XL Rame, Twitter @XL123 dan Social Media lainnya.
Selain hadiah mobil, untuk semua pelanggan yang melakukan isi ulang di atas Rp 10.000 selama periode program berlangsung bisa mendapatkan Hadiah Kejutan berupa bonus Telpon, SMS atau Data yang bisa diambil di *123*7#.
Kusut masai berserakan di rumah panggung reot itu. Gadis bernama Indah bersama bapaknya Wahab tinggal berdua di sana. Selepas bersekolah, Indah ikut mengais sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Meskipun anak pemulung, gadis berjilbab itu tetap bersemangat melanjutkan pendidikan koki untuk menggapai impian sebagai juru masak handal.
Namanya memang tak sesingkat perjalanan hidupnya yang penuh liku. Semenjak ditinggal ibunya pergi pada umur dua tahun, lingkungan telah menempa hidupnya. Dia misalnya, pernah bekerja di warung-warung makan sejak kecil di sekitaran kawasan TPST. Gadis 14 tahun itu terbiasa memasak buat bapaknya. Semenjak umur sembilan tahun sudah bisa memasak segala macam jenis sayur maupun lauk-pauk.
"Dari umur 7 tahun, sudah kerja di warung dari pelayan, ikut masak, sampai sekarang akhirnya suka masak dan bisa masak apa aja, hobi, sama cita-cita aku nanti jadi koki," ujar Indah kepadamerdeka.com di kediamannya, Desa Ciketing Udik, Bantar Gebang, Bekasi pekan lalu.
Merdeka.com sempat datang ke 'gubuknya' dan mencicipi masakan Indah. Di usia 14 tahun, Indah bisa memasak seenak itu menjadi isyarat bakatnya yang luar biasa. Di dapur yang berjarak beberapa depa dengan kasur tempat tidur itulah setiap hari dia memasakkan bapaknya. Di ruang itu ada perabot lain, salah satunya televisi yang gambarnya sudah buram.
Dari usia, sebenarnya Indah sudah telat dua tahun untuk bersekolah. Namun semangatnya itu tidak pernah redup. Meskipun, pekerjaan merawat bapaknya yang sudah sakit-sakitan juga dilakoni dara ayu itu. "Dulu sempat sekolah di SD Negeri, tapi pas bapak kecelakaan saat memulung, saya bantu bapak ikut mulung juga. Sempat enggak sekolah dua tahun, kelas tiga masuk SD Dinamika Indonesia, ngelanjutin," ujarnya polos.
Sejak subuh, Indah sudah harus bangun. Sebelum berangkat sekolah kewajiban pertamanya yaitu memasak untuk dirinya sendiri dan bapaknya. Setelah selesai, dia berangkat ke sekolah yang berjarak hampir 800 meter dari 'gubuknya'. Jika tak ada tambahan kegiatan di sekolah, dia lalu pulang dari siang sampai sore hari ikut memulung sampah.
"Nah, habis pulang sampai sore biasanya mulung, sambil bawa gerinjang (tas sampah), sama teman-teman juga banyak kok," ujarnya. Menurut dia, selain memulung sampah, dia biasa berinteraksi bersama bocah sebayanya.
Setiap bulan, dari hasil memulung, Indah bisa mengantongi uang hingga Rp 250 ribu. Apalagi, bos pengepul sampah sudah menganggap seperti anak sendiri. Setiap kebutuhan hidupnya bisa ditanggung, misalnya meminta beras lebih dahulu. "Indah bisa ambil beras dulu, nanti dipotong pas dapat duitnya," ujarnya.
Dia mengakui kalau selama ini masalah absensi menjadi yang utama. Dalam seminggu Indah bisa izin tak masuk sekolah sebab kelelahan memulung sampah. Namun sekolahnya lebih leluasa buat murid-muridnya. Terpenting mau bersekolah sudah lebih dari cukup. "Minggu kemarin, pas tujuh belas Agustus indah enggak masuk dua hari," katanya.
Di tempat sama, Wahab mengaku sering melarang putrinya untuk pergi memulung. Namun, apa daya keinginan Indah untuk mencari uang untuk membantu keluarga lebih kuat. "Sudah sering saya larang tapi anaknya ngotot," ujarnya meninggi.
Dia mengakui kalau anaknya selama ini memasak sehari-hari. "Dia sejak kecil sering ikut berjualan warung makanan, makannya jadi jago masak," ujarnya.
Walau terlahir sebagai anak pemulung, Indah masih mengejar cita-citanya. Dia sudah memikirkan masa depannya untuk menjadi lebih baik. Menjadi koki handal merupakan angan-angannya nanti. Dan mengenyam bangku sekolah merupakan langkah awal menuju cita-citanya itu.
Bau busuk sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, sudah bisa tercium dari radius sekilo. Apalagi ketika konvoi truk berwarna oranye lewat sambil meneteskan air dari dalam bak truk. Di gerbang masuk kawasan gunung sampah, nampak enam bocah lelaki sudah menunggu truk bermuatan penuh itu. Mereka biasa disebut Anak Gulung Terpal (AGT).
Pekerjaan anak-anak itu menggulung terpal penutup bak sampah lalu mencari sampah di sana. Indah merupakan satu dari enam anak itu. "Sekolahnya kan pagi sampai siang, habis itu pulang biasanya 'nyari' (mulung), lumayan buat bantu bapak," ujarnya kepada merdeka.comdi lokasi pekan lalu.
Indah bersama bapaknya, Wahab, memulung di sana. Selama ini kawasan 'bulog' sebutan lain untuk TPST Bantar Gebang, memang menjadi surga bagi para pemulung. Anak-anak hingga orang dewasa yang bekerja sebagai pemulung sampah banyak berjubel di sana.
Hasil memulung cukup untuk makan sehari-hari. Daftar harga sampah-sampah sudah tertanam di kepala mereka, mulai yang paling murah sampai paling mahal. "Paling murah ya plastik, cuma lima ratus perak. Paling mahal nium (alumunium) bekas kaleng soda bisa tujuh ribu sekilo," katanya.
Puluhan bos pengepul sampah punya langganan pemulungnya sendiri. Persentase potongan buat harga sampah terkadang naik turun sesuai dengan kesediaan stok. Biasanya pemulungnya bisa diberikan hasil uangnya per hari atau per bulan sesuai dengan perjanjiannya.
Anak-anak sudah terbiasa mencari uang di kawasan TPST. Sekolah cuma jadi tempat membosankan. Dengan kondisi himpitan ekonomi seperti itu akhirnya memaksa mereka memilih memulung dibandingkan belajar dan bermain sesuai dengan usianya.
Masih di tempat sama, Bedul bukan nama aslinya, sudah memulung sejak kelas tiga sekolah dasar. Berkat ajakan temannya saban hari menunggu truk sampah, dia akhirnya kepincut juga. Setiap hari dia menjadi pemulung dan sesekali ikut menggulung terpal penutup sampah di truk- truk. Bedul dan teman-temannya bisa mengantongi Rp 5 ribu sekali gulung.
Untuk tambahan membuka pintu bak ada tambahan sampai Rp 10 ribu. Itu buat satu truk. "Kita bisa kantongi Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per harinya," ujar bocah 12 tahun itu. Dia mengaku sudah tak punya niat untuk kembali bersekolah.
Apalagi cita-cita Bedul ketika dewasa cuma satu, jadi penggulung terpal sampah. "Mending kita di sini bisa dapat duit," ujarnya sambil mengisap sebatang kretek.
Belum lagi bahaya yang mengincar bocah-bocah pemulung sewaktu-waktu. Misalnya dari longsoran tumpukan sampah, sampai bahaya mesin tekan buat pengeruk tumpukan sampah.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, mengatakan Bekasi merupakan salah satu kota tak ramah dengan anak. Selain deretan kasus kekerasan pada anak masih terjadi setahun belakangan. Kota patriot itu juga minim ruang taman bermain untuk anak.
Di TPST Bantar Gebang, berdasarkan data dari Yayasan Dinamika Indonesia (YDI) pada 2012, terdapat 976 anak pemulung berusia 0-17 tahun. Dan sejak YDI berdiri pada 1995 sudah 805 anak yang bersekolah gratis di situ. Saban tahunnya mereka menerima 40-50 murid dan kini jumlahnya total pada tahun 2015 mencapai 417 murid.





